Minggu, 21 Juli 2013

Pisang Sematu Gedang

Pisang Sematu Gedang dalam bahasa Bailangu, lebih dikenal secara umum di daerah Sumatera Selatan sebagai Pisang Gedah. Dalam bahasa Latin disebut : Musa acuminata atau Musa balbisiana Colla.  Pisang ini sangat familier di Desa Bailangu, karena mudah tumbuh dimana saja dan berbuah tanpa mengenal musim. Pisang ini banyak ditanam di kebun, pematang sawah, tanah-tanah kosong bahkan di pinggiran jalan besar. Bahkan hal ini menjadi ciri khas tersendiri bagi Desa Bailangu, karena ketika kendaraan dari arah Palembang menuju kota Sekayu saat melewati jalan yang kanan kirinya ditumbuhi oleh pohon pisang gedah ini berarti anda telah mulai memasuki kawasan Desa Bailangu. Pohon pisang ini banyak terdapat di kanan kiri jalan mulai dari perbatasan Desa Bailangu dengan Desa Epil atau di daerah Sungai Guci sampai di Ulu Desa di daerah Sungai Tilan. Pisang ini dapat dikonsumsi mulai sejak masih berbentuk "Jantung", yang biasanya dibuat lalapan baik mentah maupun setelah direbus. Atau digulai santan dengan dicampu ikan teri tumis. Sementara buahnya yang masih mentah dan masih mudah sering juga dijadikan lalapan setelah dikupas kulitnya. Atau buah yang masih mentah tersebut dapat juga dijadikan makanan, yakni dengan cara direbus, setelah matang kulitnya dikupas lalu dimakan dengan di cocol gula pasir atau yang lebih khas adalah di cocol ke gula nira atau dalam bahasa Bailangu disebut "manes" (air gula yang berasal dari sadapan tangkai buah enau, lalu dimasak, setelah agak kental dan berwarna kemerahan diangkat dan dimasukkan kedalam botol). Beberapa makanan khas masyarakat Bailangu yang berasal dari buah pisang ini antara lain :

1. Godo Pisang

Godo dibuat dengan cara buah pisang yang telah dikupas, lalu di cacah dan dicampur sedikit tepung dan air lalu digoreng hingga berwarna kecoklatan. Untuk menambah cita rasa ada yang menambahkan kelapa parut dalam adonan godo.

Ada juga yang disebut "lempeng" yaitu adonan godo tapi digoreng dengan cara di peper seperti dadar di permukaan wajan/kuali, dengan diberi sedikit minyak goreng, sehingga aromanya seperti pisang bakar.

2. Kecepan Tungkus
Cara membuatnya yakni beras ketan putih/merah dicuci, lalu ditiriskan. Pisang dikupas, lalu hancurkan dengan cara dicacah menggunakan bibir gelas atau dibejek-bejek lalu dicampur jadi satu : pisang yang telah lumat, kelapa, beras ketan, gula. Diaduk rata. setelah itu adonan diambil menggunakan sendok lalu ditaruh  diatas daun pisang yang sebelumnya telah dilayukan (dipanaskan ke api atau dalam bahasa Bailangu "dilayo") kemudian adonan tersebut digulung atau  dilipat. Setelah itu dikukus sekitar 45 menit hingga 1 jam. Setelah matang kecepan tungkus siap disantap.

Kecepan tungkus dikenal juga dengan nama "tukup pais" atau "pepes pisang"

Pisang  sematu gedang yang telah masak  juga enak disantap tanpa dimasak/mentah karena rasanya yang manis. Bisa juga direbus terlebih dahulu. Pelepah daunnya biasanya dibuat mainan senapan oleh anak-anak, sedangkan batangnya sering dibuat mainan rakit ketika musim air pasang. Sementara batanng dan bokol pisang yang telah membusuk banyak terdapat cacing yang dapat dijadikan umpan pancing, yang biasanya disukai oleh jenis ikan sungai seperti ikan lambak, ikan lais dan sebagainya.


Sabtu, 20 Juli 2013

Katola (Pare Ulo)


Katola adalah salah satu jenis sayuran yang biasa ditanam oleh masyarakat Bailangu. Tanaman ini biasanya ditanam di pematang sawah maupun di kebun atau dihalaman rumah. Musim tanamnya biasanya menjelang tandur padi, dan disaat panen biasanya sayuran ini telah berbuah dan dapat dinikmati sebagai sayuran atau lalapan yang direbus atau di uap pada nasi. Cukup sulit juga menemukan literature mengenai tanaman ini di internet karena perbedaan nama dan penyebutannya. Setelah searching di google ternyata Katola di kenal dengan nama Pare Ulo atau Pare Belut. Katola memiliki bau yang khas saat masih mentah, namun setelah kulitnya yang tipis berwarna hijau bergaris putih dikikis lalu dicuci dengan air kemudian direbus, rasanya seperti labu manis atau seperti rasa kisik/oyong/gambas  . Katola mungkin saat ini telah menjadi tanaman langkah, sehingga banyak yang sudah tidak mengenalnya terutama generasi muda. Untuk itulah kali ini redaksi menyampaikan sedikit gambaran tentang tanaman ini yang mungkin bermanfaat sekaligus dapat bernostalgia sembari mengingat kampung halaman.


Nama lain

Katola disebut juga  Pare Belut/Pare Ular (Pare Ulo) karena bentuk buahnya yang unik memanjang seperti belut panjangnya antara 30-110 cm  dan  berdiameter 4-8 cm.


Katola dikenal dengan nama Latin : Trichosanthes anguina.
Dahulu, forma-forma Pare Belut dianggap sebagai spesies yang berbeda. 

Namun, kini dianggap sebagai varietas :
-
Trichosanthes cucumerina var. anguina (L.) Haines – varietas yang dibudidayakan
-Trichosanthes cucumerina var. cucumerina – varietas liar

Tanaman pare ini termasuk dalam keluarga atau family Cucurbitaceae atau keluarga mentimun dan labu.  Untuk menanam katola atau pare belut tidak susah, karena tanaman ini sangat mudah tumbuh dimana saja, tapi saat ini mungkin bibitnya langka dijumpai di pasaran.  Seperti menanam sayuran yang merambat, kita harus menyediakan para-para atau dalam bahasa Bailangu disebut“Unjo” agar buahnya yang menjuntai ke bawah bisa dengan mudah dipetik.  Satu lagi yang unik, agar buah katola bisa lurus, pada saat buah masih kecil dapat diberi tali pemberat.   Agar didapatkan buah yang lurus memanjang.    

Manfaat Katola
Banyak bagian tanaman ini digunakan termasuk biji, buah dan akar. Buah katola bisa dipakai sebagai obat cacing, dan pencahar. Penggunaan lain yang menarik konon katanya  buahnya dapat digunakan sebagai pengganti sabun.

Cara memasak
Pada umumnya sayuran ini dimakan sebagai menu pelengkap makan nasi yakni sebagai lalapan yang direbus terlebih dahulu. Namun kadangkala dimasak dengan cara ditumis atau sayur bening. Cita rasanya sama seperti sayur kisik/oyong/gambas, bahkan lebih terasa seperti labu manis.