Kamis, 02 Februari 2012

Kisah Puyang Dak Bepusat dan Pusaka Empat Lawang


Kisah ini bermula dari terkenalnya kesaktian Puyang Dak Bepusat sampai ke Bumi Basema. Sebagai efek dari kisah heroik perjuangan Sultan Mahmud badarudin II yang berpusat di Bailangu. Karena itulah ada orang sakti daerah tersebut yang ingin sekali menjajal Ilmu Puyang Dak Bepusat. Orang tersebut berasal dari daerah pendopo Empat Lawang.

Pada suatu hari berangkatlah orang tersebut ke Bailangu, menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan. Sesampainya di Bailangu orang sakti tersebut menanyakan keberadaan Puyang Dak Bepusat yang saat itu tidak ditemukan berada di dusun. Maka atas petunjuk orang di dusun si orang sakti menyusul Puyang yang sedang berada di kebun. Dalam perjalanan menuju ke kebun si orang sakti bertemu seseorang yang sedang membawa tombak sedang beristirahat di bawah sebatang pohon, lalu siorang sakti menanyakan keberadaan Ketip tiudin yang berjuluk Puyang Dak Bepusat kepada orang yang sedang beristirahat tersebut. Dengan ramah orang yang sedang beristirahat menanyakan maksud kedatangan dan keperluan si orang sakti, sembari orang yang sedang beristirahat menancapkan tombaknya di tanah sambil berama tamah dengan si orang sakti.

Setelah bicara-bicara ringan orang yang sedang beristirahat tersebut beranjak berdiri mengajak si orang sakti melanjutkan perjalanan menemui Puyang Dak bepusat, namun saat ia akan mencabut tombaknya yang tertancap ditanah, dia minta bantuan si orang sakti. Lalu si orang sakti dengan sebelah tangannya mencabut tombak tersebut yang ternyata tertancap sangat kuat di tanah seolah terhisap, lalu si orang sakti menggenggam tombak tersebut dengan kedua tangannya dan berusaha mencabut tombak tersebut dengan sekuat tenaganya, namun hasilnya sia-sia. Tombak tersebut seolah merekat kuat dan menempel dengan tanah, kemudian si orang sakti mengerahkan tenaga dalamnya yang di barengi dengan Ilmu kesaktiannya, namun tombak tersebut masih tertanam tanpa mengalami pergerakan sedikitpun. Akhirnya si orang sakti memohon maaf kepada si pemilik tombak, dan mengatakan dia tidak sanggup mencabut tombak tersebut seraya menyatakan keheranan nya “mengapa tombak tersebut tertancap demikian kuatnya, padahal tombak hanya menancap separuh dari mata tombak”.

Kemudian si pemilik tombak memegang gagang tombak tersebut, lalu mencabutnya namun ajaibnya hanya dengan sebelah tangan tombak tersebut tercabut seperti tanpa beban, tidak sebagaimana orang sakti tadi mencabutnya dengan susah payah dan menguras tenaga.

Setelah tombak tercabut dari tanah, lalu si pemilik tombak mengajak si orang sakti dari Empat Lawang tersebut kembali ke Dusun untuk mampir kerumahnya karena hari sudah menjelang sore. Sesampainya dirumah, si orang sakti disambut dengan ramah tamah sebagaimana kebiasaan, kemudian setelah beristirahat si pemilik rumah baru memperkenalkan diri sebagai Ketip Tiudin alias Puyang Dak Bepusat.

Dari situlah akhirnya si Orang Sakti dari Empat Lawang akhirnya mengakui kehebatan Ilmu Puyang Dak Bepusat, dan mengajak “bafajar” atau “pengakuan persaudaraan” antara Orang Bailangu dan Keturuanan Empat lawang. Dan sampai sekarang masih tersimpan sebuah benda Pusaka kenangan dari Orang Sakti Empat Lawang berupa sebilah Tombak atau “Kujur” yang tersimpan berdampingan dengan tombak “Kujur” peninggalan Puyang Dak Bepusat

Dan kalau melihat adat istiadat perkawinan dan bahasa, memang ada kemiripan antara adat orang Bailangu dengan Adat dan bahasa orang Empat Lawang. Ini terlihat pada adat perkawinan orang Empat Lawang (Pendopo khusunya) yang lebih mirip adat Bailangu daripada adat Daerah Basemah (Pagaralam maupun Lahat). Sebagai bukti lain dari telah terjalinnya persaudaraan sejak zaman dulu kala tersebut adalah adanya satu kata yang penyebutannya sama yaitu “Nyemulung” yang artinya menangis yang penyebutan dan artikatanya sama. Walaupun secara umum dialek orang Empat Lawang (pendopo khususnya lebih banyak menggunakan huruf vocal “O” sementara Bailangu lebih banyak menggunakan huruf vocal “E”).
“Ketip Tiudin alias Puyang Dak Bepusat adalah cicit dari Puyang Abusaka pendiri Desa Bailangu yang berasal dari Desa Kima Sungai Liat Bangka dan cucu Puyang Lebe. Puyang Dak Bepusat merupakan Putra Tunggal dari Ketip Rakam yang Istrinya berasal dari Ulak Paceh. Jadi Puyang Dak Bepusat memiliki darah Ulak Paceh dari garis keturunan Ibunya.


1 komentar:

Bang RadaS mengatakan...

alhdlh ikak cerito asli ughang bailangu, aku kagum atas tulisannye. Trmksh dan pacak jd diceritoke ke anak cucung lg